Siswa-siswiku tersayang. Pada awal pertemuan kita, hari pertama mulai belajar di kelas, saya sudah menuliskan angka 100 untuk masing-masing kamu dalam laptop saya ini. Artinya, setiap kamu sudah punya rencana nilai terbaik. Lalu, saya berusaha semaksimal mungkin menjaga nilai itu supaya ia tidak berubah rendah di akhir semester. Saya coba berikan pelajaran terbaik, upaya maksimal, dan pendekatan yang dinamis. Namun, sayangnya, banyak diantara kamu yang tidak sabar dan tidak mampu mempertahankan nilai 100 itu. Akibatnya, nilai 100 berubah menjadi 90, 85, 70, 60, 55, dan 50. Bahkan ada nilai yang dibawah 50. Kamu memaksa saya untuk menuliskan nilai-nilai yang sesuai dengan keingananmu itu. Seolah-olah kamu berkata, "Pak, saya nggak mau nilai 100. Saya maunya nilai 80 aja".
Trus, karena diminta seperti itu, yaaa saya tulis nilai 80 di rapor kamu.
Adalagi yang lucunya.
"Pak saya nggak demen dengan nilai100 Pak. Saya maunya nilai 50 aja"
"Loh, emangnya kenapa?"
"Soalnya, saya senang keluar kelas saat belajar pak. Suka cabut ...eeh bukan cabut gigi pak... tapi saya suka bolos. Di warung belakang pustaka, udah banyak teman nunggu."
Nah, kalau udah begini? Gimana coba? Apa saya harus ngasih dia nilai 100? Nggak mungkin kan? Ya.... nggak mungkin. Dia sendiri yang memohon nilai 50.
Tetapi.... saya nggak tega juga ama itu siswa. Kasihan, ia sudah susah payah datang ke sekolah. Biarlah... nilai dia rendah di ujian mid semester ini. Nanti, di akhir tahun, nilainya akan saya rubah, saya bikin nilai yang lebih baik, KALAU DIA MAU BERUBAH KE ARAH YANG LEBIH BAIK.
Selamat belajar. Belajar. Belajar. Belajar. Belajar.
Sukses Untuk Kita Semua.


